20 October 2013
20 October 2013,
 Off

Rindangnya pepohonan melukiskan hamparan padang rumput, dan tidak ketinggalan bayang kabut pegunungan menjadi lukisan yang kerap terlihat di pesona alam Indonesia.

Seakan pula menjadi cerminan, betapa mewahnya kekayaan alam, yang menjadi tumpuan penghuninya.

Tidak heran dengan banyaknya limpahan, serta kekayaan yang didapat, sebagian masyarakat mensyukurinya dengan beragam upacara dan pesta adat. Salah satunya di wilayah Cirebon, Jawa Barat, tepatnya di desa Cibuntu.

Desa yang terletak 30 kilo meter dari pusat kota Cirebon ini, memang diberi banyak keberkahan. Alam yang indah serta hasil bumi yang melipah. Untuk mensyukurinya warga desa Cibuntu kerap melaksanakan sebuah tradisi, yakni Sedekah Bumi atau Sabumi. Tradisi yang telah berlangsung sejak tahun 1820.

Ritual ini diadakan sebagai bentuk harapan, agar hasil panen tahun mendatang, lebih baik dari sekarang. Sebelum melakukan tradisi turun temurun ini, warga desa diwajibkan membersihkan mata air yang terletak di atas kampung terlebih dahulu.

Pembersihan mata air ini memiliki arti, bahwa segala kehidupan yang ada di bumi, berasal dari air, oleh karena itu mereka diwajibkan menjaga keasrian serta kebersihan mata air, agar dapat melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.

Ritual ini sempat terhenti selama 40 tahun, tepatnya sejak tahun 1972, namun kini dilakukan kembali, tanpa merubah makna ritual, yakni sebagai ungkapan rasa syukur dan pengingat, akan limpahan rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Pemurah, kepada hamba-Nya.

Setelah membersihkan mata air, sebagian warga kampung menyembelih seekor kambing, yang nantinya akan di masak, sebagai sajian dalam pesta adat Sabumi.

Untuk dapat lebih menyatukan diri dengan alam, masyarakat pun membuat tangkir, yang merupakan piring dari anyaman daun kelapa.

Hal ini biasa dilakukan warga desa Cibuntu, dalam memanfaatkan semua yang telah disediakan oleh alam.

Satu hal yang tidak boleh terlupakan dalam tradisi Sabumi, adalah keberadaan delman, yang nantinya mengantarkan kepala desa menuju ke lokasi acara.

Segalanya memang dipersiapkan secara matang dan dengan gotong royong sesama warga desa, mereka membawa makanan yang telah disiapkan sehari sebelumnya. Dan tidak ketinggalan, besek anyaman bambu serta piring daun pisang sebagai simbol kembali ke alam.

Setelah semua warga desa berkumpul, arak-arakan pun dimulai, ratusan warga desa berjalan beriringan, sesuai lantunan irama khas kesenian kencring.

Disini warga desa seakan larut dengan kemeriahannya. Senyum, dan tawa terus merekah di tengah hamparan sinar matahari.

Senyum yang penuh harapan akan keberkahan rezeki yang terus melimpah di tahun-tahun kedepan. Sesampainya di tempat acara, secara bergantian, mereka meletakkan tetenong, atau tempat makanan yang telah terisi penuh dengan beragam kudapan tradisional.

Dan puncak acara, mereka saling bertukar masakan, agar dapat saling mencicipi hasil bumi yang telah didapat. (Okky)

Comments are closed.

Call Now
Directions